"Mangaruhi Iwak"
TRADISI MENANGKAP IKAN RAWA
Hari itu udara Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, terasa panas. Namun,tingginya suhu udara sepertinya tidak dipedulikan peserta lomba mangaruhi iwak (mengeruhkan air agar ikan bisa ditangkap) di Festival Budaya Isen Mulang pada perayaan Hari Ulang Tahun Ke-50 Kalimantan Tengah pada minggu ketiga Mei.
Peserta lomba sepertinya asyik dengan ikan-ikan yang "menantang". Panas seperti itu pun bagi mereka dinilai sama dengan panas yang dirasakan saat menangkap ikan di tengah rawa yang mulai mengering pada musim kemarau ini. Dalam lomba itu tersedia dua kolam berukuran 5 x 10 meter yang dibuat di pinggir Lapangan Sanaman Mantekei, Palangkaraya.

Ketika lomba dimulai, masing-masing tim langsung menerjunkan tiga pesertanya ke dalam satu kolam yang menjadi sasaran mereka. Tentunya saat itu kolam buatan tersebut sudah dilengkapi ikan.
Sebelum menangkap ikan, ketiga peserta tadi pertama-tama mangaruhi (mengeruhkan) air kolam. Caranya, air kolam itu mereka aduk-aduk dengan tangan sehingga ikan yang ada di dalamnya menjadi mabuk.
Setelah air keruh, ikan-ikan pada umumnya bermunculan ke permukaan sehingga peserta dengan mudah mengambilnya. Pemenangnya adalah peserta yang paling cepat
menyelesaikan penangkapan ikan.
Musim kemarau
Menurut Bendrick, warga Kecamatan Timpah, Kabupaten Kuala Kapuas, Kalteng, lomba ini berasal dari tradisi masyarakat yang hidup di daerah rawa atau dataran rendah di Kalteng. Tradisi ini biasanya berlangsung ramai pada musim kemarau di mana kondisi air rawa surut dan banyak terkumpul ikan. Untuk menangkap ikan-ikan tersebut, kata dia, mereka tidak menggunakan jala atau alat tangkap lainnya. Mereka biasanya datang beramai-ramai terjun ke rawa itu dan mengaduk-aduk airnya sehingga terlihat sangat keruh. Kalau air sudah keruh seperti itu, biasanya mereka mudah menangkap ikan saluang, baung, sepat, maupun haruan.
Namun, kata Bendrick lagi, rawa yang mereka aduk-aduk tersebut sebelumnya sudah dipastikan aman dari binatang berbahaya, seperti ular atau ikan toman. Sebab, lanjut dia, tumbukan ikan toman sebesar guling di bagian dada bisa menyebabkan seseorang pingsan.
Kegiatan menangkap ikan ini merupakan bagian dari siklus kehidupan masyarakat Dayak yang menyesuaikan dengan kondisi alam. Sekretaris Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak dan Daerah Kalteng Sidik R Usop menyatakan, tradisi ini adalah kegiatan musiman yang sudah terjadwal, seperti waktu untuk berladang, memantat atau menoreh getah, meruntih atau membersihkan rotan, dan berburu.
RempaWarga Dayak dan beberapa suku Kalimantan lainnya pada umumnya memiliki cara atau alat untuk menangkap ikan. Cara tersebut sudah diterapkan turun-temurun. Teknik menangkap ikan, yang bisa dibilang langka ini, sampai sekarang dilakukan warga Dayak Bakumpai di Desa Rimbun Tulang, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Warga Dayak yang bermukim di pinggiran Sungai Barito ini justru menangkap ikan tidak dengan mengaduk-aduk air rawa. Mereka justru melakukannya dengan teknik yang disebut rempa, sedangkan kegiatannya disebut marempa.
Meski tekniknya sama dengan mangaruhi, yakni membuat ikan sulit bernapas sehingga segera muncul ke permukaan dan akhirnya mudah ditangkap, tetapi dalam marempa sarana yang digunakan adalah jala. Di Desa Rimbun Tulang biasanya pada musim hujan sebagian daerah itu terendam banjir. Sebelum banjir datang, biasanya mereka terlebih dahulu membuat kolam-kolam ikan.

Satu kolam ikan ukurannya 4 x 12 meter. Kolam-kolam yang terendam banjir itu pada musim kemarau biasanya sudah berisi banyak ikan, seperti ikan haruan, papuyu, sepat, siam, dan biawan. Ketika sudah siap dipanen, pemilik kolam biasanya membentangkan jala untuk menutupi kolam. Jala ditenggelamkan sekitar lima sentimeter dari permukaan air. Akibatnya, ikan-ikan di kolam itu kesulitan bernapas di permukaan. Karena itu, biasanya satu jam sejak dipasangnya jala, ikan-ikan akan terlihat berlompatan dan tersangkut di jala. Dengan demikian, pengambilan ikan pun menjadi mudah.
"Untuk pemanenan seluruh ikan di satu kolam cukup marempa tiga kali. Ini memang menakjubkan karena untuk menangkap ikan saja tanpa disadari mereka sangat arif menjaga alam tanpa harus merusaknya," kata Riki, staf Humas Pemerintah Kabupaten Barito Kuala.
(CAS/FUL)